Tidak seorangpun yang aman di pusat detensi Manus, ucap pengungsi

Michael Gordon, The Sydney Morning Herald

Para pengungsi menantang pernyataan pemerintahan Turnbull yang mengklaim bahwa tembakan yang dilepaskan saat terjadi kerusuhan di pusat detensi Pulau Manus oleh personil militer Papua Nugini merupakan tembakan ke udara.

Para pengungsi juga menyatakan bahwa setidaknya ada tiga pencari suaka dan seorang penjaga keamanan Australia yang cedera saat mereka diserang oleh penduduk lokal setelah bermain sepak bola di pangkalan AL yang mengelilingi fasilitas detensi.

“Kejadian malam tadi membuktikan bahwa Australia tidak dapat menjamin keamanan, tidak hanya bagi para pencari suaka tapi juga warga negaranya sendiri,” ujar seorang wartawan suku Kurdi sekaligus deteni di fasilitas tersebut, Behrouz Boochani.

Gambar-gambar yang disebarkan di media oleh para pencari suaka memperlihatkan lubang-lubang peluru di dinding ruangan di dua fasilitas detensi, bertolak belakang dengan pernyataan resmi yang disampaikan oleh Departemen Keamanan Perbatasan dan Imigrasi Australia.

Seorang juru bicara departemen menolak untuk berkomentar pada Sabtu lalu terkait laporan adanya tiga orang deteni dan seorang penjaga Australia yang cedera dalam insiden tersebut.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan setelah kejadian tersebut pada hari Jumat, pihak departemen menyebutkan bahwa ada laporan satu orang cedera dan “laporan bahwa pihak militer Papua Nugini melepaskan tembakan ke udara saat insiden berlangsung”. 

Para pemimpin gereja dan kelompok-kelompok pembela HAM telah menyuarakan untuk membawa kembali para deteni tersebut ke Australia sementara para pencari suaka tersebut diproses untuk kemungkinan penempatan di AS.

Pimpinan Satuan Tugas Gereja-Gereja Australia, Dr. Peter Catt mengatakan, bahkan jika proses penempatan ke AS berjalan, pemerintah harus bertindak untuk “menciptakan rasa aman dan keamanan secara umum bagi mereka yang terlalu lama berada di detensi di luar Australia”.

“Dengan membawa mereka ke Australia, kesepakatan dengan AS akan tetap berlanjut. Lebih penting lagi, proses pemulihan dari dampak kebijakan pemerintah dapat dimulai,” ujar Dr. Catt.

Direktur advokasi hukum di Pusat Hukum Hak Asasi Manusia, Daniel Webb, yang telah tiga kali mengunjungi Manus untuk melakukan investigasi kondisi di lapangan, mengatakan bahwa kekerasan yang terjadi merupakan bukti bahwa Malcolm Turnbull “harus segera mengevakuasi pusat detensi dan membawa kembali para deteni dengan selamat ke Australia.”

“Cukup sudah. Mereka yang berada di Manus harus segera dibawa kembali ke Australia dengan selamat,” katanya. “Sebagian besar dari mereka telah mejadi pengungsi sejak bertahun-tahun. Kejadian semalam telah membuat mereka merasa ketakutan, dan setelah empat tahun berada dalam kondisi ketakutan, penuh kekerasan dan ketidakpastian telah cukup membuat mereka lelah.”

Amnesti Internasional dan organisasi Buruh untuk Pengungsi turut menyuarakan untuk membawa kembali para pencari suaka ke Australia.

Jurubicara bidang keimigrasian organisasi Buruh Shayne Neumann mengatakan bahwa laporan kekerasan tersebut harus mendapat perhatian dan diselidiki secara menyeluruh.

Kepala Migrasi Papua Nugini, Solomon Kantha telah memerintahkan adanya laporan dalam insiden tersebut, dan tidak akan berkomentar sebelum menerima laporan itu.

Boochani menyebutkan bahwa mereka cedera akibat lemparan batu dari penduduk lokal. Dia tidak mengetahui jika ada penduduk lokal yang terluka.

“Masalah bermula saat beberapa pengungsi kembali dari bermain sepak bola dan hendak memasuki fasilitas detensi. Seseorang dari AL yang disebutkan oleh para pengungsi dalam keadaan mabuk memulai pertengkaran dengan mereka,” tulisnya.

“Para pengungsi dan militer AL mulai saling memukul dan kemudian penduduk lokal serta pangungsi lainnya turut terlibat dalam kericuhan itu. Setelah beberapa waktu para pengungsi menyelamatkan diri ke fasilitas detensi dan dikejar oleh penduduk lokal sambil melempari dengan batu.”

Saat eskalasi insiden meningkat, dan beberapa petugas Australia dipukuli, Boochani mengatakan bahwa personil AL Papua Nugini mulai melepaskan tembakan sementara penduduk lokal, petugas fasilitas, dan para pengungsi berlarian. “Personil AL itu melepaskan sekitar 100 tembakan dan beberapa dari peluru masuk dan mengenai ruangan dalam fasilitas detensi Mike dan Foxtrot.”

 

Sumber: http://www.smh.com.au/federal-politics/political-news/no-one-safe-at-manus-detention-centre-say-refugees-20170415-gvliwf.html

 

 

 

 

 

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Rating 0.00 (0 Votes)