Muncul Pengemis Impor, Imigrasi Buka Aduan

 

 

 

pengemis dari luar negeri

 

Belakangan aksi pengemis impor sedang marak di Kota Depok. Tidak jarang aksi pengemis bertampang timur tengah itu terekam kamera warganet dan beredar di media sosial. Mereka kerap meresahkan warga karena meminta dengan cara memaksa.

Terkait hal tersebut, Kantor  Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Kota Depok membuka pengaduan melalui nomor telepon +62-812-8923-2368. Masyarakat bisa melapor bila kasus ini terulang di lingkungan.

“Jika ada yang menemukan pengemis bertampang asing bisa melaporkan ke imigrasi, dan segera akan kami tindak lanjuti,” kata Humas Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Kota Depok, Rima Wulandari kepada Radar Depok, belum lama ini.

Dia tak menampik, bila masih banyak imigran gelap yang kerap mengemis di kawasan Kota Depok. Mereka diketahui kerap berpindah-pindah sehingga menyulitkan pihak imigrasi untuk mengamankan. “Mereka tidak hanya satu tapi banyak dan berpindah-pindah, sehingga kami membutuhkan laporan warga agar mempermudah kerja imigrasi Depok,” kata Rima.

Bahkan sebelumnya, berdasarkan laporan dari masyarakat banyak warga negara asing yang kerap terlihat meminta minta di tempat umum dan mesjid di wilayah Depok, Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Kota Depok menindaklanjuti keluhan masyarakat tersebut dengan melakukan pengawasan terhadap orang asing.

Sehingga pada tanggal 08 November 2019, di dapati 1 orang warga negara asal Pakistan berinisial SN sedang meminta sumbangan di Mesjid Ghani, Kelurahan Tirtajaya, Kecamatan Sukmajaya.

Modusnya, SN meminta sumbangan dengan dalih  kemanusiaan untuk masyarakat afghanistan yang sedang kesusahan di landa perang. Namun berdasarkan hasil pemeriksaan petugas di ketahui bahwa dana yang di dapat dari hasil sumbangan di gunakan untuk keperluan pribadi dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kepada orang asing tersebut di duga telah melanggar pasal 122 huruf a UU No.6 tahun 2011 tentang Keimigrasian, orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud dan tujuan pemberian izin tinggal yang di berikan kepadanya.

Dikarenakan orang asing tersebut menggunakan visa kunjungan untuk wisata namun di salahgunakan dengan berkegiatan untuk mencari keuntungan. Kemudian pada tanggal 15 November 2019, kepada orang asing tersebut di kenakan tindakan administratif berupa pendeportasian dan namanya di masukkan ke dalam daftar cekal.

Sementara itu, Kasubsi Intelijen Keimigrasian Kantor  Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Kota Depok, Masjoko Ardianto Wibowo menilai, Indonesia dikenal sebagai negara ramah, belum lagi biaya hidup yang murah menjadi alasan para pengungsi memilih Indonesia sebagai tempat transit.

Belum lagi mayoritas muslim sehingga warga timur tengah yang juga mayoritas muslim merasa aman untuk ditempati. “Kita mayoritas muslim, belum lagi, biaya hidup di Indonesia murah, dan masyarakat kita dikenal ramah,” kata Masjoko.

Dia mengatakan penyebaran imigran banyak terdapat di kawasan Sawangan dan Bojongsari, karena mereka masih bisa mendapatkan rumah dengan harga sewa lebih murah. Selain itu, dia juga biasa menempati rumah susun dan kontrakan yang ada di Kota Depok.

“Mereka tersebar, berbaur dengan masyarakat, dengan mencari rumah sewa yang terjangkau,” kata Masjoko. 

 

 

 

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Rating 0.00 (0 Votes)